Tidak terasa…

Sudah lebih dari setahun sejak OJT dan ditempatkan di divisi batubara, bekerja bersama rekan seangkatan, senior beserta mentor, suka, duka, sedih, gembira, ilmu, pengalaman dan rekan yang datang dan pergi silih berganti. Masih teringat awal-awal berada disini, belajar menyesuaikan diri dengan dunia perbatubaraan, berpusing-pusing ria mengerjakan telaah staf , dan yang paling menguras tenaga adalah mengikuti rapat negosiasi harga 2011 yang berjalan alot serta membuat laporan dan presentasi mengenai hasil negosiasi. Setelah itu semua terlampaui, awal maret 2011 muncul BPK yang dengan perintah DPR ditugaskan untuk mengaudit pengelolaan energi primer di PLNĀ  berlangsung lebih kurang 3 bulan. Sejak BPK masuk pekerjaan semakin menumpuk, terutama ketika mencari dokumen permintaan mereka, mesti bongkar-bongkar gudang lalu ngecek satu persatu karena dokumen yang mereka minta adalah dokumen pengadaan 3 tahun yang lalu. Akhirnya setelah 3 bulan mereka pindah kantor disini, selesai juga tugasnya dengan menyampaikan beberapa temuan.

Seperti kata pepatah, sehabis kita lelah mendaki bukit yang menanjak saatnya beristirahat sejenak di puncak. Yup, pada bulan Agustus S.K pengangkatan yang ditunggu-tunggu akhirnya turun juga, sungguh memberi udara segar setelah penantian yang cukup panjang. Tidak sia-sia akhirnya perjuangan hijrah ke ibukota, tahun 2011 pertama kalinya diri ini merasakan suasana mudik yang dulu hanya bisa dirasakan lewat televisi. Tidak cuma itu, setelah 24 tahun menerima angpao dari saudara dan tetangga, akhirnya sekarang giliran saya yang berbagi untuk saudara dan tetangga meskipun jumlahnya tidak seberapa tetapi senang juga melihat keponakan yang tersenyum senang ketika mendapat sejumlah uang.

Setelah lebaran pula, akhirnya saya bersama orangtua melamar kekasih yang 3 tahun ini menemani. Rasa haru dan bahagia hadir kala itu, karena penantian yang panjang sebentar lagi melangkah menuju gerbang baru kehidupan. Akan tetapi di titik inilah kekuatan cinta kami berdua diuji, belum mengarungi lautan kehidupan tetapi sudah banyak karang dan batu yang menghadang bahkan hampir saja menenggelamkan bahtera ini. Alhamdulillah, TUHAN masih bersama kami, secara perlahan kami berdua memperbaikiĀ  dan menambal kebocoran-kebocoran setelah diterjang oleh ombak serta menabrak karang. Saya yakin, sampai dengan rencana pernikahan kami tahun depan, bahtera yang kami naiki akan lebih tangguh lagi dalam menghadapi segala macam halangan dan rintangan karena badai besar saja bisa kami lewati apalagi badai yang kecil.

Dari 2011 ini saya menemukan bahwa kebahagiaan dan kesedihan itu hanya sementara, yang paling penting adalah bagaimana membuat bahagia ketika merasa sedih dan mengontrol kebahagiaan sehingga tidak berlebihan, hindari kemelekatan karena hasilnya adalah penderitaan. Saya lebih suka filosofi jawa yang nrimo, nurut dan ora neko-neko.